Pengertian Logika Hukum, Konsep dan Terminologi dalam Logikan Hukum


BAYUPRADANA.COMLogika HukumPengertian Logika Hukum, Konsep dan Terminologi dalam Logika Hukum

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Ilmu Hukum Sebagai Ilmu Sui

sifat khas ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, yaitu:
karakter normatif ilmu hukum, terminologi ilmu hukum, jenis ilmu hukum, dan lapisan ilmu.

Konsep dan Terminologi dalam Logika Hukum

Logika adalah bahasa Latin berasal dari kata “logos” yang berarti perkataan atau sabda”. Logika sebagai “Ilmu untuk menggerakkan pikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh suatu kebenaran”.

Banyak jalan pemikiran kita dipengaruhi > keyakinan, pola berpikir kelompok, kecenderungan pribadi, pergaulan dan sugesti.

Juga banyak pikiran > harapan emosi seperti caci maki, kata pujian atau pernyataan kekaguman.
Pemikiran yang diungkapkan > argumen yang secara selintas kelihatan benar untuk memutarbalikkan kenyataan dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi maupun golongan.

Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar dan bertujuan mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan.

Ada 2 Cara Berfikir Yang Dapat Digunakan Untuk Mendapatkan Kebenaran yaitu dengan menerapkan: Metoda Deduksi dan Induksi.

Penalaran Induktif Deduktif (dan Salah Nalar)

Definisi
Penalaran Deduktif, yaitu adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan.

Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Deduktif: 3 macam silogisme, yaitu:
• silogisme kategorial,
• silogisme hipotesis dan
• silogisme alternatif

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandungsubjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term
mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

Contoh silogisme Kategorial:
My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn : Saya adalah mahasiswa
K : Saya lulusan SLTA

2. Silogisme Hipotesis

Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional hipotesis yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.

Contoh :
My : Jika tidak ada makanan, manusia akan kelaparan.
Mn : Makanan tidak ada.
K : Jadi, Manusia akan Kelaparan.

3. Silogisme Alternatif

Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh
My : Kakak saya berada di Bandung atau Jakarta.
Mn : Kakak saya berada di Bandung.
K : Jadi, Kakak saya tidak berada di Jakarta.
Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh:
– Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam
sayembara itu.
– Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak
menerima hadiahnya

Pengertian dan penjelasan Penalaran Induktif
Penalaran induktif > suatu proses berpikir berupa sebuah penarikan kesimpulan yang bersifat umum atas dasar pengetahuan tentang hal-hal khusus (fakta).

> Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas, dan diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

Artinya dari fakta-fakta yang diperoleh kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Sehingga dapat dikatakan bahwa penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum.

> Proses berpikir induksi adalah berdasarkan Proposisi khusus ke proposisi
umum.

Di dalam penalaran induktif dubagi menjadi tiga bentuk penalaran induktif, yaitu
a) generalisasi,
b) analogi dan
c) hubungan kausal.

1.Generalisasi

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum. Generalisasi merupakan pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian.

Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.

Contohnya :
• Buah mangga berwarna hijau dan rasanya manis.
• Buah Jambu biji berwarna hijau dan rasanya manis.

Generalisasi: Semua buah berwarna hijau rasanya manis Pernyataan “Semua buah berwarna hijau rasanya manis” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.

Contoh kesalahannya: Buah kedondong juga berwarna hijau, namun rasanya
asam.

2. Analogi

Analogi > Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa jika ada persamaan dalam berbagai bidang.

Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
• Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
• Meramalkan kesaman
• Menyingkapkan kekeliruan
• Klasifikasi

Contoh analogi :
Manusia yang bijaksana dan berilmu tinggi adalah manusia yang tidak sombong. Oleh karena itu, bila kita memiliki kepandaian dan kelebihan, kita harus bersikap seperti padi yang semakin berisi, semakin merunduk.

3. Kausal

Kausal > Sebuah pernyataan yang timbul berkat adanya elemen elemen yang memiliki hubungan atau keterkaitan.

Jenis jenis hubungan kausal :
a. Sebab- akibat.
Irwan tidak mengerjakan PR, sehingga ia tidak dapat lulus tahun ini

b. Akibat – Sebab.
Motor temanku mogok, disebabkan kehabisan bensin

c. Akibat – Akibat.
Kakak terjebak macet total dijalan, sehingga kakak beranggapan akan telat
masuk kerja.

Salah Nalar
Salah Nalar > Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

Jenis-jenis salah nalar:

a. Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang
salah atau tidak memenuhi persyaratan.

Contoh :
Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.
Semua gelas akan pecah bila dipukul dengan batu.

b. Generalisasi terlalu luas
Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak
seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil
menjadi salah.

Contoh :
Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia
Pancasilais sejati.
Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat
pecah.

c. Pemilihan terbatas pada dua alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.

Contoh :
Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.

d. Penyebab Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.

Contoh :
Broto mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya. Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

e. Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.

Contoh :
Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.

Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis
harus benar.
> Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material.
> Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturanaturan berpikir yang tepat,
> Material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.


Source: Materi Perkuliahan