Mendidik Anak Agar Cerdas Finansial


BAYUPRADANA.COMMendidik Anak Agar Cerdas Finansial - Apa yang Dimaksud Cerdas Finansial? 

Mengajarkan buah hati tentang konsep finansial atau ekonomi bukan berarti meminta untuk irit bahkan "pelit". Itu adalah pemahaman jahiliyah tentang makna ekonomi.
Konsep mendidik finansial seperti itu terilhami dari seorang filsuf Inggris yang bernama Adam Smith. Ia dikenal sebagai Bapak Ekonomi Materialis yang melahirkan idiologi kapitalis dan sosialis. Ia berpendapat bahwa kebutuhan manusia lebih banyak dari pada kekayaan alam yang tersedia. Jadi, menurutnya, kita harus irit agar segala kebutuhan dapat terpenuhi. Pemahaman itu salah besar dan harus kita jauhi.

Di sisi lain, pemahaman yang salah tersebut menyebabkan manusia cenderung untuk berlebih-lebihan dalam menggunakan hartanya agar tidak dikatakan sebagai orang pelit. Mereka mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang glamor dan penuh kesombongan, berlomba-lomba dalam menghambur-hamburkan uang. Efeknya, tumbuh penyakit wahn di dalam hati mereka. Apa itu penyakit wahn? Cinta dunia dan takut mati. Padahal, perlu diketahui, pelit dan boros adalah sifat tercela dan yang memperburuk cinta keluarga.

Lalu, apa yang dimaksud dengan pendidikan finansial? Dalam Islam , pendidikan finansial untuk buah hati berarti mengajarkannya untuk hidup seimbang. Ketika buah hati terlalu irit atau pelit, pun harus menasehatinya untuk sering berinfaq.

Maka, cerdas finansial berarti bersikap seimbang dalam pengelolaan pengeluaran, tidak boros dan tidak pelit. Kita harus menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung meskipun sedikit. Kita juga harus menyisihkan sebagian penghasilan untuk bersedekah meskipun sedikit. Dengan begitu, ada keseimbangan dalam manajemen keuangan. Tidaknya hanya menggunakan penghasilannya untuk pengeluaran hari ini, tetapi juga untuk tabungan hari esok di dunia dan akhirat.

  • Allah Tidak Menyukai Sikap Berlebih-Lebihan
Al Qur'an tidak pernah menyebut kata israf (berlebih-lebihan) kecuali dalam konteks yang buruk. Tapi, coba kita ingat-ingat, sesering apa kita berlebih-lebihan saat makan? Seandainya kita tidak melakukannya, niscaya klinik dan rumah sakit akan tutup. Sebab, hampir semua penyakit sekarang ini sumbernya adalah berlebihan ketikan makan, minum, plus merokok. Sekarang, coba kita hitung lagi, berapa banyak diantara kita yang berlebih-lebihan dalam membeli pakaian, properti, dan kendaraan? Padahal, Allah SWT telah berfirman,

يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
yaa baniii aadama khuzuu ziinatakum 'inda kulli masjidiw wa kuluu wasyrobuu wa laa tusrifuu, innahuu laa yuhibbul-musrifiin

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Oleh karena itu, kita harus mendidik buah hati agar senantiasa hidup seimbang secara finansial, menjauhkan dari sifat pelit dan sifat boros. Tentu, sebaik-baiknya cara untuk melakukannya adalah dengan keteladanan dari Ayah dan Ibu serta kakah-kakaknya.

  • Bermewah-mewah, Pintu Kehancuran
Allah SWT berfirman:

وَاَصْحٰبُ الشِّمَا لِ ۙ مَاۤ اَصْحٰبُ الشِّمَا لِ ۗ 
wa ash-haabusy-syimaali maaa ash-haabusy-syimaal

"Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu."
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 41)

فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍ ۙ 
fii samuumiw wa hamiim

"(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih,"
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 42)

وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍ ۙ 
wa zhillim miy yahmuum

"dan naungan asap yang hitam,"
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 43)

لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ
laa baaridiw wa laa kariim

"tidak sejuk dan tidak menyenangkan."
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 44)

اِنَّهُمْ كَا نُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَ ۚ 
innahum kaanuu qobla zaalika mutrofiin

"Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah,"
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 45)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Sama seperti "berlebih-lebihan", Al-Quran tidak pernah menyebut "bermewah-mewahan" kecuali dalam konteks yang buruk. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu harus membiasakan buah hati untuk tidak hidup dalam kemewahan. Jangan sampai buah hati Ayah dan Ibu ketergantungan dengan hal-hal yang bersifat skunder atau tersier karena faktor kebiasaan.

Contoh kecilnya, membiasakan keluarga untuk minum teh atau kopi. Seiring waktu, kebiasaan untuk minum teh dan kopi itu seakan menjadi gaya hidup atau kebutuhan yang tak mungkin ditinggalkan. Maka, minum teh dan kopi awalnya dalah perbuatan mubah, berubah menjadi gaya hidup bermewah-mewahan yang tercela. Apalagi jika harus minum teh dan kopi dengan brand tertentu.

Ketika membaca ulang sejarah, kita akan menemukan fakta bahwa menjamurnya gaya hidup bermewah-mewahan dalam masyarakat adalah awal dari kemunduran dan keruntuhan masyarakat tersebut. Ironisnya, hal tersebut sedang kita lakukan saat ini. Nyaris setengah dari kebutuhan kita saat ini adalah barang-barang sekunder (pelengkap) yang dibeli akibat pola hidup glamor.

Ketikan terlalu termakan oleh iklan-iklan di berbagai media. Bisa dikatakan, konsumtif sudah bisa budaya kita. Kita sering membeli produk-produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tapi seakan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Misalnya, minum bersoda, jus-jus kemasan, gadget, alat-lat kecantikan, fashion, dan sebagainya. Bahkan, sebagian muslimah ada yang membuang baju-bajunya yang bahkan belum sempat dipakai dengan alasan out of trend. Yang lebih menyayatkan hati, produk-produk tersebut adalah buatan orang Yahudi. Uang yang masuk ke kantong-kantong mereka digunakan untuk memerangi, membunuh, dan menghancurkan kaum muslimin. Astaghfirullah.

  • Mempertanggungjawabkan Harta
Rasulullah bersabda, "Pada hari kiamat, seorang hamba tidak akan bisa melangkahkan kakinya sampai ia ditanya tentang empat hal. Pertama, untuk apa ia menghabiskan umurnya? Kedua, untuk apa ia menggunakan ilmunya? Ketiga, dari mana ia dapatkan hartanya dan kemana ia keluarkan? Terakhir, untuk apa ia memanfaatkan tubuhnya?" (HR. Tirmidzi)

Maka Ayah dan Ibu harus membiasakan buah hati untuk mempertanggungjawabkan uangnya - dari mana dan untuk apa. Ayah dan Ibu pun harus memberikan pemahaman kepada buah hati bahwa harta atau uang tersebut merupakan milik Allah. Ia hanya dizinkan untuk memakainya sesuai dengan aturan Allah, Sang pemilik aslinya. Tidak boleh digunakan untuk kemaksiatan karena hal itu menyalahi perintah-Nya. Pun tidak boleh digunakan secara boros atau kikir.


Sumber/Referensi;
Dr. Khalid Ahmad Syantut, Rumahku Madrasah Pertamaku, Penerbit Maskana Media, 2018